Cool Kids (part 1)


.



COOL KIDS      (part1)


*Disarankan baca ini sambil dengerin lagu cool kids*

COOL KIDS   (part 1)

She sees them walking in a straight line
That’s not really her style
And they all got the same heartbeat
But hers is falling behind
Nothing in this world could
Ever bring them down
Yeah, they’re invincible
And she just in the background

-Cool Kids by Echosmith ♪♪♪


            Arloji yang mengikat pergelangan tanganku menunjukkan pukul 11 am. Jam sebelas. Harusnya disebut jam sebelas siang. Tapi melihat cuaca di sekeliling, kurasa orang-orang masih mengira ini jam tujuh pagi.
            Aku menaikan kerah sweater hingga menutup hidung. Langit berwajah muram. Hujan deras sejak jam sepuluh tadi malam baru reda lima belas menit yang lalu. Masih berderai gerimis-gerimis dengan intensitas sangat rendah. Gerimis kecil.
            Udara kuhirup lewat hidung yang terhalang sebagian sweater coklat tua. Dingin. Hidungku serasa tertusuk-tusuk stalaktit gua kristal. Sejenak aku ingat panci di dapur rumahku. Ketika pamit tadi, Ibuku sedang memanaskan cokelat batangan agar meleleh. Ah, pasti sekarang cokelat itu telah meleleh sempurna dan merebakkan aroma panas nikmat. Seandainya udara bisa dibungkus, tadi pagi aku akan menunggu uap cokelat itu dan membungkusnya untuk kuhirup sekarang.
            Yeah, liburan membuatku sering menonton Doraemon. Hebat. Daya imajinasiku meningkat.
            “DIIIINNN DINNNN!”
            Astaga, aku baru ingat kalau aku sedang berada di lampu merah. Segera kulajukan skuterku diagonal kiri. Kendaraan-kendaraan lain yang tadi membunyikan klakson melewatiku sambil mengumpat dalam 3 bahasa. Sial.
            Perjalananku selanjutnya tak berjalan mulus. Tak cukup udara dingin, keringat dingin ikut membanjiri tubuh—seolah-olah tak ingin kehilangan kesempatan untuk menambah kesialanku. Untungnya, tempat yang kutuju hanya berjarak 400 meter dari lampu merah tadi. Setidaknya aku bisa sedikit mengambil jeda—aku tidak yakin aku akan tetap fokus berkendara setelah diserapahi oleh banyak pengendara tadi. Meskipun tadi itu memang salahku. Nasib baik, tidak ada polisi jaga. Mati aku kalau kena tilang karena alasan konyol : (masih) melamun membayangkan aroma cokelat cair hangat di jalan raya saat lampu lalu lintas menyala hijau. Ya, itu semacam definisi dari “lalai berkendara”. Jika tadi aku kena tilang.
            Terbawa suasana tadi, aku memarkir skuter dengan sangat hati-hati. Kutengok kanan-kiri, memastikan jeda antara skuterku dengan motor di kanan-kiri cukup.
            Bangunan di depanku berdinding kaca tembus pandang. Setiap orang bisa melihat aktivitas orang-orang di dalamnya. Terpampang jelas papan nama : GRIYA JAHIT “PODO SENENG”. Papan kecil di pintu menunjukan deretan huruf warna merah ; O P E N. Syukurlah. Aku pikir semua toko tutup karena hujan deras.
            Aku mendorong pelan pintu griya jahit sambil bersiap-siap cemas menunggu suara derit pintu. Aku paling tidak tahan dengan suara gesekan. Sekarang posisiku sudah ada di dalam ruangan. Tidak ada derit yang terdengar. Ah iya, itu kan pintu kaca transparan.
            Keliling penuh dengan Ibu-ibu yang berkutat dengan mesih jahitnya. Ada pula beberapa yang paruh baya, memilih aktivitas tradisional : merajut dengan tangan. Tubuhku menghangat membayangkan salah satu sweater yang tengah dirajut seorang nenek limapuluh tahunan di pojok ruangan. Sweater jingga polos berleher tinggi dari wol tebal. Jingga, warna senja. Remang, anggun, dan hangat.
            “Ada yang perlu kami bantu?” suara seorang wanita mengagetkanku. Bu Sasri, pemilik griya jahit ini.
            Aku menyerahkan kantong plastik yang bentuknya menyerupai kotak. “Ah, ini kue pesanan—“
            “Oh, kau anak Bu Lasmi ya? Ah, kukira batal diantar karena—yah, kau lihat sendiri seberapa ganas hujan dari tadi.”
            Aku menyerahkan satu kantong plastik lagi. Bu Sasri mengangkat alis kanannya. “Ibu bilang tadi sudah mengirim sms tentang bungkusan yang ini,” jelasku.
            Tangan bu Sasri cekatan merogoh saku roknya. Jemarinya menari-nari  di atas tombol-tombol ponsel. Ada instrumen lucu tercipta dari ponsel layar kuning itu.
            “Ah ya, saku gamis Ibumu bolong dan—“ Bu Sasri meletakkan kue, beralih mengacak kantong plastik yang satu lagi, “Nah, rok yang ini juga. Emm, aku bisa segera menyelesaikannya. Tolong tunggu sebentar, ya.”
            Anggukan. Bu Sasri kembali ke meja jahitnya. Ada beberapa sofa untuk pengunjung yang kosong di sini. Tapi kakiku menyeret keluar ruangan. Ada bangku panjang di depan griya jahit. Sepertinya bangku itu punya gravitasi yang besar karena ia berhasil menyedot pantatku agar rehat di sana.
            Udara di luar sepertinya mulai mengenal kata kompromi. Leher yang terbungkus kerah sweater mulai terasa panas. Aku menggulungnya, membiarkan leherku menikmati semerbak pasca hujan. Tanganku menyelusup ke saku celana, meraih ponsel pintar layar sepuluh kali lima senti.
            Yang pertama terbesit di pikiranku adalah : media sosial. Aku punya beberapa akun media sosial—ah, lebih tepat disebut akun mati karena jarang sekali aku membuat status. Jadi, apa yang kulakukan dengan medsos-medsos ini? Of course, I’am a stalker.
            Ada banyak tipe orang pendiam di dunia. Aku malas menyebut semuanya. Tapi aku termasuk tipe pendiam intelijen. Tunggu, sebelum aku menjelaskan pendiam intelijen, perlu kutekankan kalau aku tidak murni pendiam. Aku remaja biasa. Biasa saja. Terlalu biasa hingga sedalam apapaun kau menggali, hasilnya nihil. Nihil, tidak ada hal apapun yang menonjol dalam diriku. Kelas akan tetap biasa saja saat aku tidak berangkat sehari, dua hari, atau bahkan sebulan sekalipun. Tak dianggap? Mungkin terlalu telak tapi—yah, kurang lebih itu. Paham?
 Aku suka mengamati orang-orang, stalking akun medsos mereka. Spesifiknya lagi, aku stalker khusus anak-anak gaul—famous. Aku tahu apa yang mereka lakukan kemarin, aku tahu tempat apa yang baru mereka kunjungi, aku tahu apa hobi mereka, aku tahu benda apa yang sedang mereka inginkan, aku tahu siapa idola mereka. Media sosial memberi tahu semuanya. Terlalu konyol ya—mengetahui gosip remeh temeh tentang anak gaul di kota. Apalagi untuk anak pendiam sepertiku, tidak ada yang menyangka. Yeah, aku pendiam. Aku bergerak dalam diam.
            Beranda media sosial yang kubuka menampilkan status orang-orang yang kuikuti. Hei, ini si Sheila! Anak kelas sebelah yang hits dan style-nya sebelas dua belas dengan bintang ftv. Dia mengunggah foto di pantai. Loh, sebelahnya siapa? Anak lelaki berambut pirang. Hmm, pacar barunya? Hebat benar Sheila, baru putus seminggu sudah digaet lagi. Bule pula.
            Bawahnya lagi, emm, ini Veronica. Vero, anak SMP sebelah. Ups, dia dibully oleh anonymous. Dari kata-katanya, anonymous ini macam  sangat membenci Vero. Tapi bukan Vero namanya kalau tidak pintar bersilat lidah—emm, lebih tepat disebut bersilat jari karena mengetik menggunakan jari. Dibalasnya bully-an tadi dengan serentet pembelaan super sarkas.
            Bawahnya lagi, nah ini anak yang paling sering aku stalk. Sejauh yang aku tau dari medsos, dia cantik, baik, ramah berketik kata, update di media sosial, apalagi dia—
            “Vita!”
            Itu namaku.
            “Vita!”
            Itu namaku. Seseorang memanggilku. Dua kali.
            Di tempat seperti ini siapa yang akan bertemu denganku? Rasa penasaran memaksa sendi putar menengok. Di toko sebelah. Seorang gadis berambut panjang mengenakan coat merah marun selutut, legging hitam memperlihatkan kurus lekuk kaki, dan syal rajut motif aztec membelit leher sedang berjongkok di depan toko kaset. Nampaknya memperhatikan poster yang terpajang.
            Radius 10 meter di belakang gadis coat merah, dua gadis berjalan tergopoh-gopoh menghampiri. Yang satu mengenakan kemeja kotak-kotak yang mencuat dibalik sweater tribal ungu. Plus jeans merah dan boots coklat muda. Satunya lagi mengenakan coat kuning yang dibiarkan tak terkancing, memperlihatkan kaos putih bertuliskan I’AM HIS membungkus tubuhnya. Berpadu dengan jogger pants abu-abu dan boots abu-abu pula.
            Aku terkesiap. Tarik nafas dalam-dalam. Ya Tuhan. Mereka—tiga gadis itu. Mereka orang yang sedang aku stalk!
            Jika biasanya aku melihat mereka lewat foto di layar ponsel, sekarang aku benar-benar melihat mereka dengan mata telanjang. Gadis ber-coat kuning adalah Sheila, sweater tribal ungu adalah Vero, dan gadis coat merah marun yang setengah berjongkok di depan poster adalah Vita! Gadis famous super ramah yang namanya sama denganku.
            Tiga gadis itu mengobrol entah apa di depan poster. Mata mereka tampak antusias. Lihat betapa gadis cantik yang bercengkrama di pinggir jalan benar-benar memperindah pemandangan kota. Lihat rambut Sheila yang diombre hijau tosca, berayun-ayun diterpa angin. Pipi mungil Vero yang bersinar dalam suasana suram ini. Lalu, ah—Vita. Tanpa apapun dia terlihat mempesona. Sungguh demi apa jika aku lelaki, mungkin aku akan terkena hipertensi atau semacamnya karena darahku akan berdesir cepat tiap menatap Vita.
            Mataku akhirnya berkedip ketika mereka berhenti mengobrol dan berjalan lagi. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Jantungku berdetak berkebalikan dengan langkah mereka yang terasa seperti slow motion. Badan langsing dan tegap, kaki kurus berayun lincah, derap dengan irama mantap, ayunan tangan gemulai—hei seseorang tolong katakan padaku kalau mereka menari, bukan berjalan. Ya Tuhan, mereka hanya BERJALAN. BERJALAN. Semua orang bisa melakukannya! Mereka hanya berjalan dan KENAPA ITU TERLIHAT MENGAGUMKAN?
            Nafasku tertahan dan seisi dunia serasa sangat melambat di detik-detik mereka lewat di depanku. Aku berusaha memasukkan ponselku ke saku agar apa yang ada di layar tidak terlihat oleh mereka—aku akan sangat malu karenanya. Yeah, sekalipun kemungkinannya sangat kecil untuk anak famous sengaja mengintip kesana kemari. Ketika semua memperhatikanmu, untuk apa kau juga curi pandang ke arah mereka?
            Tap, tap, tap. Detak jantungku masih kencang tak beraturan dan tertinggal di belakang kaki mereka yang berpijak senada melewati bangku tempatku duduk. Tarik nafas dalam-dalam—pfffffffhhhht.
Aku meyakinkan diriku kalau aku masih hidup setelah beberapa detik yang menyesakkan ini. Mereka masih terus berjalan. Dua anak lelaki di parkiran kafe melambai. Sudah jelas pada Sheila, Vero, dan Vita. Lelaki yang satu berambut cepak mengenakan jaket kulit tebal, satunya lagi rambut pirang mengenakan jaket kulit pula dengan resleting terbuka. Melihatkan kaus putih bertuliskan I’AM HER di balik jaket. Ah, ini pasti si pirang pacar baru Sheila.
“Hei kau,”
Aku menengok. “Ah, iya?”
Bu Sasri memberikan kantung plastik padaku. “Sudah selesai. Bayarannya sudah Ibumu sertakan di dalam sini dan sudah kusertakan pula kembaliannya. Nah sudah ya, masih banyak perkerjaan lain. Kau juga pasti mau pulang, kan? Nah, selamat siang.”
Tanpa mengecek, aku mengangguk.
Aku berbalik dan termenung sejenak di jok skuter. Pandanganku jatuh pada pakaian yang membalut tubuh. Bandingkan dengan tiga gadis famous itu. Aku membayangkan ketika sweater coklat tua polosku berjejeran dengan sweater tribal ungu Vero atau coat Sheila dan Vita. Seperti kucing pasar dan kucing anggora. Apalagi urusan pembungkus kaki. Aku hanya mengenakan celana katun hitam polos dengan dua saku samping, dan mereka—stop, siapapun tolong putar lagu ‘lambaikan tangan ke kamera’ dari Aaron Ashab sekarang juga. Ya Tuhan, ini benar-benar tidak lucu.
Maka ungkapan yang tepat adalah : kuno, statis, kaku versus kasual, stylish, fashionable.
Bagaimana dengan ungkapan beauty and the beast? Oh, tidak. Itu terlalu telak. Setidaknya arloji yang melilit tanganku sedikit membuatku kurang cocok disebut ‘the beast’.
Ketika melirik ke kanan, aku mendapati Sheila, Vero, Vita, dan dua anak lelaki tadi masih di depan kafe. Mengobrol dan tertawa entah apa. Berselfie ria. Ah, pulang ini nanti pasti mereka akan mengunggahnya ke dunia maya. Lantas mereka berjalan menuju pintu kafe, masih diiringi gelak tawa.

Aku meringis membayangkan derit pintu kafe.
Dan meringis miris akan betapa tertinggalnya aku.
       

            Tunggu part 2 besok yaaa! Happy reading guys!


Your Reply