Archive for Januari 2019

Trip to Kaligua


.

Karena aku merasa perlu banget mulai hidup mandiri dan skill termaju yang aku punya selain bisa tidur di segala tempat adalah menulis, so here I am. Mari belajar menulis apa saja, res!

TRIP TO KALIGUA

            Sebagai maba a.k.a mahasiswa babi baru, ini adalah pertama kalinya aku menyentuh periode liburan. Ternyata liburan seorang mahasiswa 3 kali lipat liburan siswa biasa hehehe. Hebat ya, dengan tambahan kata ‘maha’ di depan status kita yang dahulu—dari siswa jadi mahasiswa—benefit yang didapatkan 300 persen lebih banyak. Tidak sepenuhnya terlaksana 6 minggu sebenarnya karena keberadaan simultan (Try Out untuk anak SMA yang diselenggarakan organisasi mahasiswa daerah).
            Paruh awal liburan aku habiskan untuk persiapan simultan. Nah disini bukan hendak mebicarakan berapa lama jumlah hari liburku atau seperti apa pelaksanaan simultan, tapi hari-hariku setelah simultan. Didefinisikan dalam kosakata sebagai berikut : tidur—makan—mandi—baca buku—mandi—makan—nonton film—tidur—repeat. Dalam bahasa slang teman-teman kampusku biasa disebut : ongkang-ongkang. Sampai di suatu hari aku memutuskan tidur lebih cepat dan mengakibatkan aku bangun di tengah malam lantas menemukan notifikasi bahwa beberapa temanku merencanakan perjalanan ke kaligua. Besoknya. Oke, aku sebagai homo gabutensis tidak akan mengatakan pernyataan selain : “IKUT DONG!”
            Perjalanan dimulai pukul 9.15 dari rumahku—lahan tanggung di perbatasan Cilongok-Karanglewas (fyi, terkadang aku mengaku rumahku berlokasi di Karanglewas biar orang-orang nggak berubah simpati dan iba karena Cilongok terlihat jauh dari peradaban Purwokerto pusat). Kalau dari Purwokerto, tidak ada pilihan rute perjalanan lain selain lewat Ajibarang. Jalan yang dilalui enak untuk ukuran  wisata di atas awan. Sedikit ada ganguan karena kemarin sempat ada pengaspalan jalan raya di daerah Pekuncen—kira-kira tepat setelah melalui lampu merah pertigaan Taman Kota Ajibarang. Sampai di kecamatan Paguyangan, belok ke arah Desa Pandansari. Yep, pertualangan dimulai.
            Jalan menanjak, berkelok, beberapa berlubang dan bergenangan air—namun tetap seperti yang kusebut sebelumnya, aku kategorikan enak untuk ukuran wisata di atas awan. Di beberapa sudut tikungan juga dipasang cermin cembung. Karena aku pergi pada hari Selasa di periode yang bukan liburan umum warga Indonesia raya, jadi suasana cenderung sepi. Kami berhasil sampai di gerbang wisata Kaligua setelah berkendara kurang lebih satu setengah jam.
            Terkejut kami terheran-heran sebab abang belum pernah kesana melihat nominal yang tertera di loket masuk adalah 17000 rupiah! Hmm apa yang terjadi padahal 7 bulan sebelumnya harga karcis masih 8000 perak saja! Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin dong kami harus kembali ke Purwokerto h3h3h3h3 eman-eman bensine mad.  Ternyata eh ternyata, 17000 dikembalikan dalam bentuk : tiket masuk + tiket masuk waduk Tuk Bening + teh hitam sachet produk warga setempat. Ashiaappp.
            Kalau sudah masuk ke area wisata, harus pintar-pintar pilih spot foto. Ada banyak titik-titik menarik jadi harus bentar-bentar berhenti dan memarkir motor.


Titik di atas bisa ditemukan sebelum sampai di gerbang wisata Tuk Bening. Dekat pertigaan yang ada plang nya deh pokoknya heuheu.




            Selain menjual pemandangan kebun teh ajib dibumbui udara sejuk, wisata Kaligua juga menjamu pengunjung dengan keberadaan Goa Jepang, bebek air, flying fox, wisma dan penginapan, area camping, gazebo, musola, toilet umum, parkir luas, dan wahana outbond.
            Dari itu semua, hal yang benar-benar aku apresiasi dari Kaligua adalah : harga mendoannya gak ikutan mahal! Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa harga makanan di lokasi wisata biasanya lebih merogoh kocek. Tapi di sini mendoan tetap seribuan dong :( sebagai kaum proletar aku sangat terhura.
            Sepertinya itu saja si. Karena aku lagi suka bikin moodboard ala-ala jadi kucantumkan juga moodboard trip Kaligua hehe.