Karena aku merasa perlu banget mulai hidup mandiri
dan skill termaju yang aku punya
selain bisa tidur di segala tempat adalah menulis, so here I am. Mari belajar menulis apa saja, res!
TRIP TO KALIGUA
Sebagai
maba a.k.a mahasiswa babi baru, ini adalah pertama kalinya aku menyentuh
periode liburan. Ternyata liburan seorang mahasiswa 3 kali lipat liburan siswa
biasa hehehe. Hebat ya, dengan tambahan kata ‘maha’ di depan status kita yang
dahulu—dari siswa jadi mahasiswa—benefit
yang didapatkan 300 persen lebih banyak. Tidak sepenuhnya terlaksana 6 minggu
sebenarnya karena keberadaan simultan (Try Out untuk anak SMA yang
diselenggarakan organisasi mahasiswa daerah).
Paruh
awal liburan aku habiskan untuk persiapan simultan. Nah disini bukan hendak
mebicarakan berapa lama jumlah hari liburku atau seperti apa pelaksanaan
simultan, tapi hari-hariku setelah simultan. Didefinisikan dalam kosakata
sebagai berikut : tidur—makan—mandi—baca buku—mandi—makan—nonton film—tidur—repeat.
Dalam bahasa slang teman-teman kampusku biasa disebut : ongkang-ongkang. Sampai di suatu hari aku memutuskan tidur lebih
cepat dan mengakibatkan aku bangun di tengah malam lantas menemukan notifikasi
bahwa beberapa temanku merencanakan perjalanan ke kaligua. Besoknya. Oke, aku
sebagai homo gabutensis tidak akan mengatakan pernyataan selain : “IKUT DONG!”
Perjalanan
dimulai pukul 9.15 dari rumahku—lahan tanggung di perbatasan
Cilongok-Karanglewas (fyi, terkadang aku mengaku rumahku berlokasi di
Karanglewas biar orang-orang nggak berubah simpati dan iba karena Cilongok
terlihat jauh dari peradaban Purwokerto pusat). Kalau dari Purwokerto, tidak
ada pilihan rute perjalanan lain selain lewat Ajibarang. Jalan yang dilalui enak
untuk ukuran wisata di atas awan.
Sedikit ada ganguan karena kemarin sempat ada pengaspalan jalan raya di daerah
Pekuncen—kira-kira tepat setelah melalui lampu merah pertigaan Taman Kota
Ajibarang. Sampai di kecamatan Paguyangan, belok ke arah Desa Pandansari. Yep,
pertualangan dimulai.
Jalan
menanjak, berkelok, beberapa berlubang dan bergenangan air—namun tetap seperti
yang kusebut sebelumnya, aku kategorikan enak untuk ukuran wisata di atas awan.
Di beberapa sudut tikungan juga dipasang cermin cembung. Karena aku pergi pada
hari Selasa di periode yang bukan liburan umum warga Indonesia raya, jadi
suasana cenderung sepi. Kami berhasil sampai di gerbang wisata Kaligua setelah
berkendara kurang lebih satu setengah jam.
Terkejut
kami terheran-heran sebab abang belum pernah kesana melihat nominal yang
tertera di loket masuk adalah 17000
rupiah! Hmm apa yang terjadi padahal 7 bulan sebelumnya harga karcis masih 8000 perak saja! Tapi nasi sudah
menjadi bubur, tidak mungkin dong kami harus kembali ke Purwokerto h3h3h3h3
eman-eman bensine mad. Ternyata eh
ternyata, 17000 dikembalikan dalam bentuk : tiket masuk + tiket masuk waduk Tuk
Bening + teh hitam sachet produk warga setempat. Ashiaappp.
Kalau
sudah masuk ke area wisata, harus pintar-pintar pilih spot foto. Ada banyak
titik-titik menarik jadi harus bentar-bentar berhenti dan memarkir motor.
Titik di atas bisa ditemukan sebelum sampai di gerbang
wisata Tuk Bening. Dekat pertigaan yang ada plang nya deh pokoknya heuheu.
Selain menjual pemandangan
kebun teh ajib dibumbui udara sejuk, wisata Kaligua juga menjamu pengunjung
dengan keberadaan Goa Jepang, bebek air, flying fox, wisma dan penginapan, area
camping, gazebo, musola, toilet umum, parkir luas, dan wahana outbond.
Dari itu semua, hal yang
benar-benar aku apresiasi dari Kaligua adalah : harga mendoannya gak ikutan
mahal! Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa harga makanan di lokasi wisata
biasanya lebih merogoh kocek. Tapi di sini mendoan tetap seribuan dong :(
sebagai kaum proletar aku sangat terhura.
Sepertinya itu saja si.
Karena aku lagi suka bikin moodboard ala-ala jadi kucantumkan juga moodboard
trip Kaligua hehe.




